Kamis, 27 Desember 2012

Cara Kerja Jokowi (Gubernur DKI Jakarta) dari kacamata Konsep Kaizen

Kemarin saya membaca salah satu surat kabar harian Ibukota yang dalam satu kolomnya memberitakan bagaimana seorang Jokowi turun ke gorong-gorong saluran air di jalan MH. Thamrin, Jakarta. Beliau turun ke gorong-gorong dan melihat bagaimana sesungguhnya keadaan gorong-gorong tersebut, lantaran kemarinnya ibukota di guyur hujan yang sangat lebat dan mengakibatkan banjir dimana-mana. Setelah Jokowi turun ke gorong-gorong didapati bahwa diameter gorong-gorong tersebut hanya berdiameter 60 cm. Beliau langsung berkomentar...."Bagaimana nggak banjir orang diameter drainasenya hanya sebesar itu". Bayangan saya sebelumnya, gorong-gorong tersebut berdiameter sangat besar, begitu ujar Beliau. OK, kita akan buat Big Drain untuk mengatasi banjir di Jakarta yang membentang sepanjang jalan Sudirman Thamrin dst... dst....
Demikianlah salah satu konsep kerja Jokowi .... terjun ke bawah.

Dalam implementasi Kaizen di berbagai proses, terdapat 2 konsep kaizen yang menjadi pilar utama dalam Kaizen itu sendiri yaitu 3 Gen dan 2 Gen. 3 Gen yang pertama dapat diartikan sebagai Genba (Job site / Lapangan), Actual Thing (keadaan yang terjadi pada saat itu) dan Phenomenon (fenomena).
Secara Keseluruhan, 3 Gen, dapat diartikan sebagai Datang langsung ke tempat kejadian, Lihat apa sebenarnya yang terjadi dan fenomena apa yang dihasilkan dari apa yang terjadi tersebut.
Banyak kejadian, dalam menyelesaikan suatu masalah kita tidak melakukan 3 Gen ini tetapi mengandalkan laporan, pengalaman dan bahkan asumsi sehingga tidak jarang terjadi keputusan atau kebijaksanaan yang diambil tidak relevan dengan permasalahan yang terjadi.

2 Gen, diartikan sebagai Fundamental Function (fungsi dasar dari alat atau keadaan yang kita lihat pada Genba tadi) dan Fundamental Condition (kondisi dasar yang harus terpenuhi agar fungsi dasar tersebut dapat tercapai).
Secara keseluruhan dapat diartikan, agar Fungsi Dasar tersebut dapat tercapai maka harus diciptakan Kondisi Dasar - Kondisi Dasar yang sesuai agar Fungsi tersebut terpenuhi.

Mengambil contoh, masalah gorong-gorong tadi, Konsep Kaizen dapat di implementasikan dengan penggambaran sbb:
3 - Gen
Job Site - Pak Joko Widodo, langsung melihat dan bahkan turun ke gorong-gorong untuk melihat apa sebenarnya yang terjadi pada gorong-gorong sehingga dapat menimbulkan banjir.

Actual Thing - Pak Jokowi, melihat bahwa gorong-gorong tersebut berdiameter 60 centimeter

Phenomenon - Pak Jokowi (dan mungkin banyak dari kita), merasakan bahwa terjadi banjir dimana-mana terutama di sepanjang jalan MH. Thamrin. Keadaan ini bukanlah merupakan kenyataan tetapi hanyalah sebuah fenomena, artinya ada penyebab yang menyebabkan terjadinya banjir. Mengapa saya tidak mengatakan kenyataan ? karena kalau kenyataan kita akan menganggap hal itu biasa tetapi kalau kita menyebut fenomena, maka ada suatu penyebab disitu.

Langkah selanjutnya dari proses 3 Gen adalah 2 Gen.
Kembali ke masalah gorong-gorong, Penjabaran 2 Gen-nya adalah sbb:

Fungsi Dasar (Gorong-gorong) adalah sebagai tempat aliran air di jalan MH Thamrin Jakarta dengan kapasitas aliran air ....... m3/detik (penulis belum mengetahui debit air yang terjadi).
Fungsi Gorong-gorong ini harus betul betul ditetapkan dengan benar. Tahu fungsinya, bukan hanya sekedar tahu. Kalau tidak, fungsi gorong-gorong tidak akan tercapai dan salah satu akibatnya adalah meluapnya air dari gorong-gorong alias banjir.

Kondisi Dasar dari gorong-gorong di Jl. MH. Thamrin Jakarta harus memenuhi syarat-syarat sbb (sebagai contoh, hanya penalaran penulis):
1. Diameter gorong-gorong, minimal ..... cm (harus lebih besar dari debit air yang melewatinya).
2. Gorong-gorong harus terbebas dari sumbatan-sumbatan yang ada (sampah, batu-batu, dll).
3. Gorong-gorong harus berada .... cm di bawah permukaan tanah.
4...... dst..
5. ....... dst... dst
semakin banyak kita memenuhi kondisi dasar yang ada maka fungsi gorong-gorong akan semakin maksimum, Demikian juga sebaliknya jika kondisi dasar yang terpenuhi semakin sedikit maka fungsi gorong-gorong tersebut tidak akan maksimum dan bahkan tidak berfungsi sama sekali.

Demikianlah ulasan tentang implementasi Konsep Kaizen dalam kaitannya dengan Cara Kerja Pak Joko Widodo dalam menangani banjir di Jakarta.

Semoga tulisan diatas dapat menambah wawasan kita smua.

Catatan di penghujung tahun 2012
Indro Agung Handoko
www.indroagunghandoko.blogspot.com

Kamis, 22 November 2012

Where We Do Kaizen / Continuous Improvement...?

Kaizen atau dikenal juga Continuous Improvement sangatlah fenomenal. Sebegitu dasyatnya Filosofi yang berasal dari negeri Sakura ini sampai sampai hampir semua manufacturing ingin mengimplementasikan konsep ini bahkan tidak hanya di manufacturing tetapi sudah merambah di dunia non manufacturing seperti office, bank, hospital, restaurant, dsb.

Pertanyaan selanjutnya dan juga sering ditanyakan kepada saya adalah area mana sajakah yang dapat dilakukan Kaizen dan harus dimulai dari area mana?. Dibawah ini telah saya buatkan satu gambaran yang memudahkan kita untuk menentukan area mana yang dapat dilakukan Kaizen serta tools apa yang cocok untuk digunakan.


5S dan 7 Waste adalah Tools dasar dan utama dalam menjalankan TQM serta Productivity Improvement. Pemahaman dan Skill yang tinggi tentang 5S dan 7 Waste akan memudahkan kita untuk menjalankan Kaizen dan TQM.

Di bidang Mesin, tools kaizen yang dapat digunakan adalah TPM (Total Preventive Maintenance) dan Integrated Maintenance System. TPM adalah pondasi utama untuk meningkatkan performance mesin. Dengan Performance mesin yang tinggi maka produktivitas akan naik. Salah satu point penting dalam TPM adalah konsep perhitungan OEE (Overall Effectiveness Efficiency) dimana dalam konsep ini segala macam loss (termasuk defect) dimasukkan dalam perhitungan performance mesin.
Integrated Maintenance System adalah suatu konsep maintenance yang menggali konsep maintenance apa yang paling cocok untuk diaplikasikan pada area industri. Karena setiap industri mempunyai keunikan tersendiri terhadap sistem maintenance yang cocok untuk diterapkan.

Di area produksi kita dapat menjalankan Gemba Kaizen untuk menyingkat waktu proses dari setiap proses yang terjadi di area produksi. Line Balancing dan Man Machine Chart akan membawa kita ke proses yang paling maksimum didalam memadukan antara jumlah operator dengan output yang dihasilkan.
Productivity Improvement adalah salah satu management kontrol yang dijalankan pada area produksi agar target yang telah ditentukan dapat tercapai secara konsisten dari hari ke hari.
Dijenjang lebih tinggi, implementasi Just In Time (JIT) akan dapat membawa kita ke proses produksi yang semakin smooth / lancar, artinya Inventory level di setiap proses menjadi lebih rendah yang pada akhirnya akan dapat menekan Inventory Cost Perusahaan yang bermuara pada kebutuhan Cash Flow yang lebih rendah / sedikit.

Management Operating System (MOS) adalah Kaizen yang diterapkan untuk meningkatkan Integrasi antar Proses / Departemen sehingga menjadikan suatu pola yang terintegrasi antara produksi dan departemen penunjang lainnya seperti Purchasing, PPIC, Maintenance, dll.

Implementasi Value Stream Mapping (VSM) akan melihat proses Kaizen dalam kacamata company level sehingga hasil Kaizen di tingkat bawahnya (departemen / proses) dapat di integrasikan antara proses / departemen satu dengan departemen / proses lainnya sehingga disinilah mulai kelihatan hasil Kaizen dalam skala besar (company level).
Dalam beberapa kasus, konsep VSM juga sering diimplementasikan pada proses Kaizen di departemen non produksi seperti Purchasing, PPIC, GA & HRD, dll

Manufacturing Cost Improvement adalah salah satu model pembelajaran yang diperuntukan untuk level manager keatas. Objective dari pembelajaran ini adalah setiap manager memahami tentang Cost Structure dari product yang dibuat sehingga diharapkan kinerja antara manager yang satu dengan manager yang lain dapat saling mengisi sehingga Cost Structure suatu produk dapat di maintain dan bahkan diperkecil sehingga Profit Ratio dari produk tersebut dapat ditingkatkan.

Demikian ulasan saya tentang Kaizen yang diterapkan di dalam industri. Semoga dapat membantu kita dalam memahami tentang Kaizen.

Selamat BerKAIZEN.
KAIZEN tidak memerlukan biaya tinggi tetapi KAIZEN akan membawa ke perubahan yang besar.

Indo Agung Handoko
Cikarang, 22 November 2012

Selasa, 23 Oktober 2012

Dengan 5S siap naik kelas

Minggu lalu saya diberi kesempatan untuk memberikan in house training + coaching untuk small project dengan judul Total Productive Maintenance (TPM) di salah satu perusahaan chemical building terkemuka di Indonesia. TPM adalah salah satu Kaizen (Improvement) di bidang Maintenance dan Produksi dengan Objective untuk meningkatkan performance mesin sehingga Productivitas akan meningkat.

Ada hal menarik yang ingin saya share tentang implementasi 5S di pabrik tersebut.
Begitu pintu gerbang dibuka, satpam dengan santun mempersilahkan saya untuk masuk dna ditunjukkan kemana saya harus memarkir kendaraan yang saya gunakan. Saya langsung takjub, karena tanpa adanya arahan tersebut, saya dengan cepat dan mudah mengetahui dimana saya harus berjalan. Indikasi sangat jelas, dimana jalan orang dan jalan kendaraan. Di setiap sudut / pojok dan di seluruh mata memandang saya tidak menenmukan sampah satupun, semuanya bersih, rapi dan teratur.

Keseimpulan saya, 5S sudah berjalan dengan baik sekali di perusahaan ini dan pasti didalamnya juga akan seperti itu juga. Dan memang kenyataannya seperti itu. Sewaktu berkeliling di pabrik tersebut untuk melakukan coaching, pemandangan yang saya ceritakan tadi juga saya temukan di seluruh area yang saya kunjungi.

Saya tidak akan membahas lagi tentang implementasi 5S di tempat tersebut, tetapi saya ingin menceritakan apa Side Impact dari implementasi 5S tersebut, yaitu al:
1. Tidak ada satupun karyawan yang tidak kelihatan bekerja, semua bekerja sesuai dengan bidangnya masing-masing. Mulai dari Security, Office Boy, dsb.... dsb.

2. Baru kali ini (sejak saya aktif di dunia training di tahun 2008). Saya memulai kegiatan training dengan tepat waktu. 2 hari training, jadwal mulai training jam 08.30.... 5 menit sebelumnya semua peserta training sudah berada di ruang training. Semua waktu persiapan (dandori) dikerjakan sebelum training dimulai. Dapat dikatakan tepat jam 08.30.. langsung action. Demikian juga pada saat istirahat makan siang, 5 menit sebelum dimulai sudah berada di ruangan. Demikian juga waktu break tepat 15 menit tanpa molor sedikitpun. Dan ini semua berjalan tanpa ada teriakan-teriakan untuk berkumpul).. Woow...Keren.

3. Satu kali... saya berjalan dengan salah satu karyawan dan menjumpai ada seberkas sobekan kertas jatuh di jalanan di luar gudang. Karyawan tersebut langsung mengambil kertas tersebut, membacanya dan ohhh ternyata kertas bekas.... langsung dibuang ke tempat sampah.

4. Meskipun bangunan tua, karena berdiri di tahun "85-an, tetapi semua ruangan terpelihara dengan baik. Kamar kecilpun sangat bersih dan tidak ada bau sama sekali ... apalagi sampah di dalam kamar kecil.

5. Forklift, yang di banyak tempat sangat jorok dan biasanya asal pakai. Tetapi disini tidak .. keadaanya sangat bersih dan tidak banyak debunya. (padahal pabrik tersebut produksinya berupa powder).

6. Tidak ada barang yang ditempatkan melanggar garis zoning, baik di dalam produksi maupun di area luar perusahaan.

7. Dan masih banyak lain side impact dari hasil implementasi 5S di perusahaan tersebut.

Ketika saya berdiskusi dengan salah satu Manager di Perusahaan tersebut. Wah sudah sangat berjalan 5S di tempat ini. Kemudian saya bertanya sejak kapan implementasinya, beliau mengatakan sejak 7 tahun yang lalu.... Saya langsung percaya.... memang 5S bukanlah project yang instant... 5S adalah pembangunan mental / budaya kerja... yang tidak membutuhkan waktu yang singkat.

Masih berlanjut diskusinya... saya katakan ... Kalau Begitu.... Siap Naik Kelas Dong pak......
Maksudnya?
Ya .. menurut saya perusahaan ini sudah siap untuk naik kelas. Naik kelas ke World Class Manufacturing.
Apa iya ...?
Pasti saya jawab.... Kaizen ke arah Productivity Up yang salah satunya dengan tools TPM, saya yakin akan dapat dengan mudah dan cepat untuk diimplementasikan.

Semoga tulisan diatas membantu wawasan kita dalam mengembangkan industri di tanah air.

Demikian, selamat beraktifitas kembali Minasan.

Indro Agung Handoko,
siang hari di tanggal 22 Oktober 2012

Rabu, 08 Agustus 2012

JURUS JITU agar semua karyawan terlibat dan mau menjalankan 5S

Pertanyaan pada judul blog diatas sering ditanyakan baik pada saat setelah training, sebelum training bahkan tidak jarang ditanyakan pada saat negosiasi / presentasi program 5S.
"Kita sudah tahu arti 5S dan bahkan beberapa bagian sudah menjalankannya, tetapi mengapa kok tidak semua karyawan menjalankannya ?" begitu rata rata komentar dari beberapa perusahaan yang sudah menjalankan program 5S.

Seperti yang sudah sering saya ulas, bahwa program 5S adalah program pembenahan Budaya Kerja dalam hal kerapian lingkungan kerja (House Keeping) untuk meningkatkan produktivitas kerja. Karena hal ini berhubungan dengan perubahan budaya maka pertama kali kita harus lihat budaya karyawan dalam perusahaan tersebut.
Bagaimanakah budaya kerja karyawan ?
Sudah tertibkah dengan aturan yang ada sekarang ?
Bagaimanakah peran dari atasan paling tinggi terhadap kedisiplinan ? jangan jangan mereka juga tidak care dalam hal itu.
Kalau jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas semuanya adalah Negative maka akan beratlah usaha yang dilakukan untuk menjalankan program 5S.
Apalagi ditambah dengan budaya kita sendiri dalam bekerja yang cenderung seenaknya saja, Cuek dengan keadaan sekililing, melanggar aturan yang telah dibuat bersama.
Celakanya lagi, hal inilah yang memang benar-benar terjadi dalam kebanyakan perusahaan yang ada di Indonesia.

Tetapi.... apakah kita akan mundur dengan keadaan seperti itu, tentunya tidak. Harus ada tindakan yang Pas untuk mengatasi masalah itu semua.
Jurus JITU agar semua karyawan terlibat dan mau menjalankan program 5S adalah DIPAKSA dengan ATURAN. Mengapa demikian ? karena disini yang dirubah bukanlah areanya tetapi yang dirubah adalah POLA PIKIR dan MIND SET dari semua karyawan. Untuk merubah hal tersebut diatas cara satu satunya adalah dipaksa, tidak ada cara lain.... meskipun itu hadiah atau reward yang sifatnya hanya sementara.

Mengutip perkataan M. Jufuf Kala, Wakil Presiden kita kala itu tentang kebijaksanaan Gas 3Kg. Rakyat Indonesia harus dipaksa, tidak bisa dianjurkan.. tidak bisa dihimbau... tetapi harus dipaksa dengan jalan yang tepat dan benar.
Demikian juga masalah perubahan Budaya Kerja 5S di perusahaan. Harus Dipaksa.

Dalam penerapan 5S, meskipun sudah dipaksa dengan aturan dan sebagainya tetapi orang yang bertanggung jawab dalam penerapan 5S harus memahami Proses Perubahan tersebut. Perubahan Budaya Kerja 5S memerlukan waktu... tidak bisa Instant...

Proses perubahan tersebut dapat dibagi menjadi 3 tahap, yaitu:
1. Proses Mechanical Stage, proses ini adalah proses pelaksanaan yang sifatnya Mechanical artinya Aturan Harus Jalan, harus kaku... Strict.. Tegas. tidak ada alasan untuk tidak menjalankannya, meskipun tidak tahu untuk apa aturan itu. Demikian juga penanggung jawab proyek tidak boleh mempunyai sifat EXCUSE atau BERKILAH dan menyalahkan orang lain yang tidak mau berubah. Mereka harus tahan banting untuk terus men-train dan men-booster semua karyawan agar mau berubah.
Memang proses ini adalah proses yang sulit dan memerlukan waktu yang lama... Mengapa? Simple jawabannya: Karena pada dasarnya semua orang tidak mau berubah .... semua orang ingin mudahnya saja.
Tetapi yang jelas.... Proses Mechanical ini harus dilewati oleh semua orang untuk keberhasilan program.

2. Proses Understanding Stage. Proses ini adalah proses pengakuan bahwa program 5S yang dijalankan adalah program yang bagus, dapat diterapkan di lingkungan kerjanya, dapat menghasilkan dan membuat senang setiap orang yang menjalankannya.
Tanda bahwa orang tersebut sudah berada dalam posisi ini adalah ... tanpa ada paksaan dan follow up mereka sudah menjalankan Aturan dengan senang hati dan dilaksanakan secara konsisten.
Tanda pada area-nya adalah: Area tersebut di pandangan external view sudah terlihat keteraturan proses kerja, alur proses yang jelas dan mengalir dan ujungya adalah peningkatan produktifitas.

3. Proses Utilization Stage. Seseorang yang telah mempunyai Mind Set dalam Stage ini, sudah bisa dilepas dan ditambakan tugas untuk melakukan Coaching pada orang lain. Dan biasanya orang tersebut tanpa diperintahpun sudah melakukan Coaching ke orang lain termasuk Sub Ordinatenya untuk melakukan program yang tengah dijalankan.
Tanda pada area-nya adalah: Program 5S telah berpindah ke lokasi yang lain tanpa diperintah oleh siapapun. Artinya mereka sudah mengimplementasikan 5S di lain area yang menjadi tanggung jawabnya.

Orang yang telah berada pada posisi Utilization inilah yang menjadi target pelaksanaan 5S.
Orang yang telah berada pada posisi ini, biarpun dipindah ke area lain, akan menjalankan 5S juga.
Akhirnya.... tercapailah Target dari program 5S.... yaitu Perubahan Budaya Kerja 5S di seluruh Area Perusahaan.

Semoga tulisan ini membantu bagi peningkatan produktifitas perusahaan.

Mari ber-KAIZEN....
KAIZEN meskipun kecil.. tetaplah KAIZEN

Salam
Indro Agung Handoko

Jumat, 06 Juli 2012

Bagaimanakah Area Kerja yang RAPI menurut 5S ?


Dalam salah satu kesempatan pada acara In House Training tentang 5S in Manufacturing, salah satu peserta bertanya, bagaimanakah penataan yang rapi itu? bagaimana kalau menurut saya rapi tetapi menurut orang lain tidak...?? Woooh Good Question.

Kemudian saya mensimulasikan penataan meja di depan yang saya gunakan untuk presentasi materi. Silahkan Ibu maju ke depan (kebetulan yang bertanya adalah seorang ibu, yang kebanyakan lebih rapi dari pria) dan aturlah apa yang ada di meja saya serapi mungkin menurut ibu. Kemudian ibu tersebut menyusun apa yang ada di meja dengan cekatan. Tidak lebih dari 2 menit, sang ibu berkata, "Sudah rapi Pak". Ok, terima kasih ibu.
Kemudian saya melanjutkan bertanya kepada seluruh audience. "Menurut Bapak dan Ibu sekalian, apakah meja saya ini sudah rapi ?". Ada yang berkata sudah dan ada juga yang berkata belum dan ada juga yang berkata cukup.
OK, silahkan bapak yang berkata belum rapi untuk merapikan meja saya. dan hasilnya sama saja dengan sang ibu, hanya menggeser beberapa barang yang ada di atas meja saya.

Kemudian saya lanjutkan, yang Ibu dan Bapak lakukan tadi adalah RAPI menurut ibu dan bapak, TETAPI menurut kaidah 5S..... BELUM RAPI..... Suasana langsung bergemuruh saling berbincang dan berkomentar satu dengan yang lain.

Hal pertama yang harus kita lakukan dalam penataan 5S di area kerja kita adalah bertanya kepada diri kita sendiri?

APA YANG SAYA GUNAKAN DALAM AKTIFITAS KERJA SAYA ?

Barang-barang yang keluar dari jawaban diatas sajalalah yang boleh berada di area kerja kita, diluar itu harus segera kita singkirkan dari area kerja kita.

Nah kembali lagi ke meja presentasi saya, OK kita tanya dan jawab secara bersama-sama.
  • Apakah 2 kursi di belakang meja harus kita singkirkan ? YA, karena saya tidak memerlukan meja ketika melakukan presentasi training.
  • Apakah saya memerlukan tas laptop yang saya letakkan di bawah meja saya ? TIDAK, oleh karena itu singkirkan.
  • Apakah saya memerlukan air minum di dalam gelas pada saat presentasi ? TIDAK, keluarkan kalau begitu
  • Apakah saya memerlukan HP yang saya simpan dalam kantong celana saya pada saat presentasi ? TIDAK, keluarkan dan letakkan di dalam tas.
  • Apakah saya memerlukan kotak alat alat tulis beserta isinya? Tidak semua diperlukan, lakukan pemilahan segera. Letakkan di meja hanya benda yang dibutuhkan.
  • Apakah kabel listrik, kabel LCD Projector mengganggu pekerjaan saya ? Ya, Rapikan segera.
  • Kemudian, apa yang diperbolehkan berada di atas meja saya? Laptop, LCD Projector, Laser Pointer, Buku Catatan, Bolpoint. Hanya itu saja, yang lain harus disingkirkan dari sekitar area meja.
Sudah RAPIKAH sekarang.... ? dengan kompak semua menjawab ... SUDAH PAK........
... BELUM kata saya..... langsung hening semua.....
Kemudian salah satu peserta ada yang bertanya dengan singkat ..LALU ?

Barang-barang diatas meja saya belum rapi, untuk menjadikannya Rapi benda benda tersebut harus diatur tata letaknya sehingga kita dapat menjangkau dan mengoperasikannya dengan mudah dan efisien.

Jadi letakkanlah laptop sebagai pusat operasional, letakkan buku di samping kanan laptop, bolpoint di atas buku catatan, masukkan laser pointer di kantong baju.

Hasil dari Penataan kerja yang rapi adalah bukan pada KERAPIANnya tetapi dari LAMA PROSES YANG DIBUTUHKAN untuk mengerjakan suatu proses. Semakin Rapi penataan area kerja maka akan semakin pendek proses kerja sehingga output terakhirnya adalah Produktifitas Kerja yang Tinggi.

Oleh karena itu proses Coaching dalam pelaksanaan 5S sangatlah penting untuk memberikan guidance atau arahan tentang implementasi 5S yang benar dan tepat sasaran yaitu memperpendek waktu Proses.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan menambah wawasan kita semua dalam implementasi kegiatan 5S.

Hal kecil dengan perubahan kecil.... tetaplah Kaizen. Dan 5S adalah pondasinya.

Selamat Beraktifitas.

Rabu, 30 Mei 2012

Implementasi 5S .. mengapa selalu GAGAL..???

Kemarin saya menemani salah satu client saya untuk uji coba mesin baru di salah satu kawasan industri di Bandung. Ada hal menarik yang bagus untuk saya share di blog ini. Yaitu tentang budaya kerja.

Meskipun akses menuju pabrik yang saya kunjungi penuh dengan jalan yang berlobang dan kubangan air tetapi derita itu langsung hilang begitu memasuki area pabrik tersebut. Dari mulai penerimaan security yang sangat ramah, ruangan security yang sangat bersih, teratur dan wow... disampingnya adalah area parkir untuk motor yang sangat sangat rapi, berjejer 3 baris, semua motor menghadap ke depan. Mana untuk parkir mobil ya? oh itu disana.... dengan sangat jelas terlihat indikasi tempat parkir mobil untuk tamu

Perjalanan saya berlanjut ke lobby dan wow... lagi. Bersih.... Rapi dan Teratur? Tidak sampai 5 menit (Good Attitude, tidak harus menunggu lama untuk menemui tamu) keluarlah Director dari pabrik tersebut dengan senyum hangatnya menyambut kedatangan kita semua. Setelah say hello sebentar, kami dipersilahkan untuk masuk ke ruang produksinya untuk melakukan uji coba mesin.

Dan... baru kali ini saya berkunjung ke pabrik yang bisnisnya adalah Workshop dan pengaturanya sangat rapi.... bersih dan teratur. Sempet saya melakukan work sampling untuk karyawan... Dan hasilnya... Ratio Bekerjanya mendekati 90%... artinya dalam satu area lokasi pekerjaan dan dalam waktu yang sama 90% karyawannya dalam posisi bekerja, tidak ada yang berjalan mondar mandir... tidak ada yang bengong.... tidak ada yang ngobrol dan Muda / Pemborosan yang lain.

Kemudian saya berdiskusi dengan Pak Direktor, apa rahasianya Pak?
Hanya satu kata dari Beliau .... Commitment dari Jajaran Direksi untuk membuat proses yang teratur. Kemudian beliau mencontohkan.
Disini tidak ada karyawan yang berani mengambil sisa-sia raw material untuk dibawa pulang.. bahkan buah-buahan yang hidup dengan suburnya tidak ada yang mengambil. Apa Rahasianya...?
Management harus mempunyai pola pikir "Mendidik" bukan menghukum bagi para karyawannya.
Disini kalau ada karyawan yang mengambill buah (Beliau mencontohkan buang nangka yang hidup di halaman depan pabrik) dan ketahuan. Keesokan harinya, Manager karyawan tersebut akan memanggil karyawan tersebut dan menyuruh makan buah nangka sampai habis dan di makan ditengah workshop mereka dengan dilihat oleh semua karyawan yang sedang bekerja. Dia harus makan sampai habis.. meskipun sampai sore dan tidak bekerja apa-apa.

Demikian juga untuk merokok, jika ketahuan, keesokan harinya Managernya langsung membelikan 2 batang Rokok Djie Sam Su dan harus dirokok tanpa henti di hadapan teman-temannya yang sedang bekerja. Dan masih banyak contoh contoh yang lain yang Beliau ceritakan.

Dan yang hebat adalah mind set sang Direktur. Kita harus mendidik karyawan kita, karyawan jangan dihukum.. karena kalau dihukum dia akan semakin bandel dan kalau dikeluarkan dia akan menjadi lebih bandel di tempat lain. Kita harus menumbuhkan BUDAYA MALU kepada setiap karyawan kita.... WOW... KEREN....

Nah... apa hubungannya dengan implementasi 5S ?
5S adalah pembangunan BUDAYA... bukan tools ...bukan program kerja dan bukannya pembangunan yang instant. Memerlukan proses yang cukup lama untuk membangun budaya 5S. Diperlukan komitment yang tinggi dari Jajaran Direksi sampai dengan level yang paling bawah (office boy atau bahkan pemotong rumput halaman).
Banyak sekali perusahaan yang implementasi 5S nya diserahkan kepada Managernya.... dan akibatnya... bisa ditebak... 5S tidak akan berhasil.. bahkan ada yang memberi opini bahwa implementasi 5S sangatlah susah atau bahkan tidak ada gunanya sama sekali.

Semoga cerita singkat diatas dapat menambah wawasan kita dalam implementasi 5S di tempat kerja kita masing-masing.

Have a nice day....

..... about 5S implementation... see http://indroagunghandoko.blogspot.com/p/5s-in-manufacturing.html

Selasa, 13 Maret 2012

Kita bisa bekerja lebih dari 24 jam sehari... Really..???


Benarkah kita dapat bekerja lebih dari 24 jam sehari..??? Ya Benar... dan sudah terbukti.... So... bagaimana caranya?

Coba kita renungkan apa yang biasa kita kerjakan setiap hari selama 1 hari penuh sampai dengan keesokan harinya.
05.00 Pagi .... bangun pagi, persiapan mandi, sarapan pagi dan berangkat kerja
08.00 Pagi ... mulai bekerja dengan mengerjakan pekerjaan kita sehari-hari sebagai pekerjaan yang rutinitas dan menunggu perintah atasan.
12.00 Siang... istirahat makan siang, relaksasi diri, ngobrol, ngerumpi, dlsb
01.00 Siang ... mulai bekerja lagi dengan menantikan jam 5 teng untuk menunggu waktu pulang.
05.00 Sore ... waktunya pulang...... lega deh.... siap - siap bergumul dengan kemacetan atau shopping ke mall, ngobrol, chatting, dlsb
08.00 Malam - sampai di rumah.. nonton tv, makan malam, berkumpul bersama bersama keluarga...
10.00 Malam - siap-siap bobok dah.. sampai menuggu jam 5 esok pagi

Berulang terus... berulang terus... dan terus.
Pertanyaan saya adalah....
Apakah hasil yang telah dicapai ?
Berapa persenkah waktu yang kita gunakan untuk mendukung hasil yang telah atau ingin kita capai ?
Atau malah kita tidak tahu apakah yang hendak kita capai ? dan hanya mengikuti kehidupan yang telah berjalan sekarang ini?
Kalau hal tersebut dijalankan maka 24 jam sehari atau 36 jam sehari atau bahkan 100 jam sehari pun akan tidak mempunyai makna apa-apa.

Mengapa hal tersebut diatas bisa terjadi ...???
Jawabannya hanya satu yaitu... kita tidak menciptakan DREAM dari pekerjaan kita.

Ada yang bertanya apa itu DREAM ? apa bedanya dengan GOALS ?
Oh... sangat berbeda sahabatku...
Goals turun dari atasan kita.. sehingga secara emosianal kita akan tertekan dengan goals tersebut karena merasa diperintah meskipun yang memerintah adalah atasan kita sendiri.
Tetapi kalau DREAMS adalah bayangan yang kita ciptakan sendiri untuk kita sendiri untuk kehidupan kita yang lebih baik di masa mendatang.

DREAM akan langsung terpatri dan terus dirasakan keberhasilan dan kesuksesannya dalam hati kita sendiri. Alam Bawah Sadar kita akan sangat merespon DREAM yang kita ciptakan.

DREAM akan mendorong kita untuk bekerja setiap saat, setiap waktu, setiap keadaan dan setiap tempat. Bangun tidur kita memikirkan DREAM kita.. dalam perjalanan ke tempat kerja, kita memikirkan DREAM. Apapun yang kita hadapi akan kita hubung-hubungkan dengan DREAM bahkan sampai DREAM kita menjadi DREAM beneran dalam tidur kita. DREAM akan selalu mendorong kita untuk bekerja dan mengerjakan segala sesuatu yang menunjang DREAM yang kita ciptakan...
DREAM inilah yang membuat kita dapat bekerja 24 jam full sehari. Tidak ada waktu sekecil apapun yang kita lewatkan untuk tidak memikirkan dan tidak melakukan segala aktifitas jika tidak menunjang DREAM kita.

Bagaimanakah Realitas DREAM dalam pekerjaan kita?
Seorang sahabat bekerja sebagai seorang Supervisor Produksi pada sebuah perusahaan manufacturing, ketika ngobrol saya bertanya apa target anda sebagai seorang SPV Produksi, dia menceritakan dengan lengkap beserta langkah langkah yang dijalankannya.
Kemudian saya bertanya, apakah target anda sudah tercapai? Nah... itu masalahnya Pak.. Target yang diberikan kepada saya dari atasan saya sangat tidak realistis.... susah dicapai...dan bla..blaa...bla. Beliau menceritakan bagaimana kesulitan yang dicapai dalam mencapai target tersebut.

Apa yang salah dari hal diatas?
DREAM, sahabat saya tersebut tidak mempunyai DREAM.... sehingga yang dipikirkan setiap saat dan setiap waktu adalah rasa kejengkelan mengapa Beliau diberikan target sebesar itu dari atasannya. Alam Bawah Sadarnya diisi dengan rasa kejengkelan, rasa kekecewaan. Dengan kondisi tersebut bagaimana mungkin Beliau memikirkan cara untuk mencapai target yang diberikan. Secara normal apa yang akan dilakukan setiap hari? Beliau akan mengikuti irama hidup seperti yang telah saya paparkan di awal blog ini.

Untuk itu...
Berdiamlah Sejenak................
Pikirkan.. apakah kita sudah mempunyai DREAM atas pekerjaan kita. Kalau belum, segeralah BUAT

Contoh-contoh DREAM,
Saya seorang Maintenance, DREAM saya adalah... "Saya memandang Mesin saya seperti pacar saya, bergerak lemah lembut dengan irama yang sangat teratur, Bekerja terus menerus tanpa ada rasa lelah, Tidak ada kotoran yang saya keluarkan dari bagian-bagian mesin saya. Saya siap bekerja kapanpun saya diperlukan..." Begitu indahnya Mesin saya ini.....

Saya seorang Produksi. DREAM saya adalah: para pekerja saya bekerja dengan penuh keceriaan, produk yang dihasilkan sangat menawan hati, dinanti nantikan banyak orang, Tidak ada kecacatan yang timbul dari produk yang saya hasilkan. SPV saya, Manager saya dan seluruh karyawan di perusahaan ini mengagung-agungkan kualitas dari produk yang saya hasilkan... Begitu indahnya menjadi seorang SPV Produksi..

Saya seorang PPIC, ayo--ayo mana lagi orderan yang masuk. Order yang masuk melalui saya pasti akan saya respon dengan cepat, delivery time akan terikirm tepat waktu. Atasan saya, Customer saya akan sangat gembira dan bangga dengan hasil saya di PPIC.... Oh alangkah bahagianya..

...........

Dengan DREAM... hidup kita akan tenang... nyaman dan pasti mempunyai kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Dengan DREAM kita merasa tidak pernah tidur.... kita tidak pernah berhenti untuk bekerja... dan bekerja untuk kedamaian kita.... dan sesama kita

Mari kita buat DREAM kita masing-masing sahabat-sahabatku....

Selamat beratifitas Minasan... semoga tulisan ini berguna bagi semua.

Tulisan ini special aku tujukan buat sahabatku yang sedang merantau nun jauh di Borneo sana....
Thanks.... karena telah mengingatkanku untuk menulis cerita diatas.......